10 TRADISI UNIK INI HANYA KAMU TEMUI DI PULAU NIAS. 8 SAMPAI 10 SUDAH TIDAK DILAKSANAKAN LAGI. PENASARAN?

Selain destinasi wisata dan keindahan alamnya, Pulau Nias juga dikenal dengan tradisinya yang unik. Menurut penelitian Arkeologi di Pulau Nias (1991) ditemukan bahwa Pulau Nias sudah dihuni oleh manusia 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia pada masa Paleolitik bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun silam menurut pemaparan Prof. Harry Truman Simanjuntak Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu Budaya Hoabinh dari Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias sehingga diduga jikalau asal-usul Suku Nias berasal dari daratan Asia disebuah daerah yang kini menjadi negara Vietnam. Penelitian genetika terbaru malah mengungkap fakta bahwa Suku Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia yakni dari Taiwan melalui jalur Filipina (4.000 – 5.000 tahun silam) oleh Mannis Van Oven (Baca : Suku Nias)

Sebagai bagian Negara Indonesia yang memiliki beragam tradisi, Pulau Nias memiliki tradisi unik tersendiri yang hanya bisa kamu temui bila berkunjung disini. Simak penjelasannya berikut ini versi Wonderful Nias Holidays.

Butuh Paket Wisata Nias? Klik Disini 

1. Fahombo (Lompat Batu)

Fahombo merupakan salah satu tradisi suku Nias yang terkenal. Tradisi yang sangat populer dimasyarakat Nias bagian selatan ini sudah dilakukan sejak lama dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Tradisi Fahombo pada zaman nenek moyang

2. Fataele/Foluaya (Tari Perang)

Foluaya merupakan tradisi yang sepaket dengan Fahombo karena lahirnya secara bersamaan (Baca : Tari Perang Nias)

Potret kehidupan Suku Nias zaman dulu ketika melaksanakan Faluaya di Bawomataluo

3. Manari Moyo (Tari Elang)

Manari moyo yang hanya diperankan oleh kaum perempuan ini dengan gerakan menyerupai Burung Elang ternyata memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Suku Nias (Baca : Tari Moyo Nias)

Tari Moyo Nias

4. Maena

Maena merupakan tarian massal Suku Nias yang ditarikan oleh kaum wanita dan pria. Maena sendiri diiringi dengan lagu rakyat Suku Nias bisa ditarikan dengan atau tanpa musik. Gerakan tari maena sendiri sangat sederhana dan mudah ditiru. Makna filosofi dari tari maena yakni tentang kebersamaan, kegembiraan dan kemeriahan. Siapa sangka tradisi Tari Maena ternyata memecahkan rekor MURI pada November 2016 dengan jumlah peserta sebanyak 5.763 orang.

Maena Rekor MURI tahun 2016

5. Omo Hada (Rumah Tradisional Nias)

Omo Hada merupakan sebutan untuk rumah tradisional suku Nias. Omo Hada sendiri memiliki bentuk yang berbeda-beda berdasarkan wilayahnya. Ada yang atapnya bentuk linmas ada juga yang bulat. Sayangnya Omo Hada asli sudah jarang kita temui lagi di Pulau (kecuali di Desa Bawömataluo, Nias Selatan). kebanyakan Omo Hada yang ada sekarang adalah hasil moderenisasi karena perkembangan zaman. Sebenarnya Omo Hada asli itu dibangun dengan tumpukan kayu kokoh tanpa menggunakan paku atau bahan perekat lainnya. Omo Hada merupakan rumah yang tahan terhadap goncangan gempa bumi apalagi terhadap serangan musuh pada masa-masa perang dizaman nenek moyang dulu.

Miniatur bentuk-bentuk Omo Hada di Museum Pusaka Nias

6. Baru Hada (Pakaian Tradisional Nias)

Sama seperti suku lain di Indonesia, Suku Nias juga memiliki pakaian tradisional tersendiri. Sebutan untuk pakaian tradisional yakni Baru Hada dengan motif dan warna yang memiliki Filosofi juga. Pakaian, perhiasan dan senjata di Nias sangat beraneka ragam serta diberi warna dan hiasan (ukiran) yang bermacam-macam pula. Dalam upacara adat atau upacara kebesaran, pakaian dan perhiasan yang berwarna keemasan atau kekuning-kuningan sangat digemari selain kombinasi beberapa warna lain seperti hitam, merah dan putih. Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran. Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit. Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan. Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian. Untuk melengkapi keagungan dan kemegahan penampilan dalam suatu upacara kebesaran (Owasa/ fa’ulu), seorang pria dewasa harus menyelipkan senjata di pinggangnya. Tolögu dan Gari si so rago merupakan senjata yang sangat disukai oleh kalangan bangsawan, panglima dan para prajurit. Pada senjata atau hiasan sering sekali diberi kepala monster (Lasara) atau ukiran-ukiran binatang buas yang angker yang menggambarkan keperkasaan, keberingasan, dan kekuatan kekuasan seseorang.

Baru Hada zaman dulu dengan zaman sekarang

7. Owasa (Upacara Adat Nias)

Berbicara tentang tradisi upacara adat atau dalam sebuatan Nias dikatakan Owasa, Suku Nias bisa dikategorikan sebagai rajanya. Bagaimana tidak jikalau dalam sekali pesta harus mengorbankan ratusan ekor babi dewasa (mayoritas Suku Nias menganut ajaran Kristiani) dengan biaya pesta yang sangat fantastis. Ada beberapa kategori tradisi upacara adat bagi Suku Nias yang masih dilaksananan sampai sekarang.

a. Upacara Kelahiran

Dalam tradisi Nias, ketika seorang anak lahir dan akan diberi nama (famatörö döi nono) maka akan dipotong minimal seekor babi dewasa untuk pesta keluarga dan masyarakat sekitar. Selanjutnya akan disampaikan kepada pendeta untuk didoakan agar si anak tumbuh sehat dan panjang umur.

b. Upacara Pernikahan

Sebagai salah satu suku yang menjunjung tinggi nilai adat istiadat, tradisi pernikahan Suku Nias juga sangat mengeluarkan biaya yang fantastis. Beberapa langkah penting yang harus dilalui dalam sebuah pernikahan yakni :

  • Famatua (Pertunangan)
  • Fanema Bola (Penentuan Jujuran)
  • Famekola (Penyerahan Jujuran)
  • Falöwa (Pesta Pernikahan)

Dalam setiap acara tersebut selalu dilaksanakan pemotongan babi bahkan dibeberapa daerah puncak pestanya yakni pada resepsi pernikahan bagi golongan bangsawan akan mengorbankan ratusan ekor babi dewasa (Baca : Tradisi Pernikahan Suku Nias)

c. Upacara Kematian

Upacara kematian untuk orang tua, biasanya pada waktu sakit dilakukan pesta dengan memotong babi serta mendatangkan pendeta. Upacara ini ditekankan pada pemberian makan terakhir bagi orang yang sakit. Dalam upacara ini si anak meminta berkat dari orang tua yang akan meninggal.

d. Upacara Kebangsawanan

Upacara kebangsawaan yang dikenal dengan sebutan Fa’ulu ini berkaitan dengan struktur sosial seseorang dimasyarakat. Upacara ini bertujuan untuk meningkatkan status sosial dengan pemberian nama kebesaran / gelar kebangsawanan kepada seseorang yang mengadakan pesta. Semakin banyak babi dikorbankan, semakin besar pesta diadakan maka semakin diseganilah sang bangsawan tersebut.

Tradisi Owasa pada zaman nenek moyang

8. Famatö Harimao

Pada zaman dahulu sebelum agama masuk di Pulau Nias, menurut kepercayaan masyarakat Nias di wilayah Maenamölö, Nias Selatan, patung yang seperti Harimau diusung dan diarak sekali dalam 7 tahun sebagai salah satu upacara religi Kuno yang sakral. Upacara ini dinamakan Famatö Harimao (pematahan patung harimau). Setelah patung diarak kemudian dipatahkan dan dibuang kedalam sungai atau air terjun dengan keyakinan bahwa segala kesalahan, pelanggaran dan dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya akan hanyut bersama dengan patung tersebut. Nama patung tersebut yakni Adu Harimao (patung harimau) yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hewan harimau yang sesungguhnya (harimau tidak terdapat di Nias). Anatomi Adu Harimao sendiri berbadan anjing dan berkepala kucing. Saat ini tradisi ini sudah tidak dilaksanakan lagi karena masyarakat sudah memiliki agama dan hukum yang berlaku. Dalam usaha pelestariannya, tradisi kuno dari Nias Selatan ini hanya dilakukan pada moment-moment tertentu seperti pergelaran budaya dan upacaranya bukan lagi Famatö Harimao melainkan Famadaya Harimao (perarakan patung harimau).

Atraksi budaya : Famadaya Harimao

9. Fanömba Adu Zatua (Pemujaan Patung Leluhur)

Pada zaman dulu ketika orangtua sudah meninggal dunia maka anak-anaknya akan membuatkan patung baik dari ukiran batu maupun ukiran kayu untuk orangtua mereka. Patung ini akan diresmikan pada hari ke empat setelah kematian orangtua. Dipercaya roh orantua akan masuk kedalam patung tersebut. Segala sesuatu yag terjadi dan akan dilaksanakan akan disampaikan dalam doa melalui pemujaan terhadap patung yang didirikan didalam rumah (ukiran kayu) maupun dihalaman rumah (ukiran batu). Tradisi ini juga tidak dilaksanakan lagi karena setiap masyarakat sudah memiliki agama dan kepercayaan.

Adu Zatua dihalaman rumah pada zaman nenek moyang

10. Fangai Binu/Högö (Pemenggalan Kepala)

Tradisi Fangai Binu dilakukan oleh anak laki-laki Suku Nias dalam keluarga. Mereka harus mencari kepala manusia untuk dipenggal yang bukan termasuk saudara mereka dalam kepentingan tertentu. Biasanya Fangai Binu/Högö dilaksanakan sebelum orangtua mereka meninggal. Konon, orangtua akan damai meninggal ketika dipersembahkan beberapa kepala manusia sebagai pelayannya diliang kubur. Tradisi ini dulunya salah satu pemicu terjadinya perang antar kelompok di Pulau Nias. Seiring dengan berekembangnya zaman dan masuknya agama, tradisi ini sudah tidak dilaksanakan lagi melainkan menjadi sejarah yang harus diketahui oleh generasi muda saat ini.

Contoh patung Binu di Museum Pusaka Nias

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now